Senin, 09 Juni 2014

Silsilah Penguasa Sunda - Galuh - Cirebon



A.     Prabu Ragamulya Luhur Prabawa yang memerintah di kerajaan Sunda sejak tahun 1340 Masehi sampai tahun 1350 Masehi, berputra di antaranya:
1.     Linggabuana
2.     Bunisora
B.      Linggabuana menjadi Maharaja Kerajaan Sunda (termasuk juga wilayah Galuh) menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana pada tanggal 14 separuh terang bulan Palguna 1274 Saka (kira-kira tanggal 22 Februari 1350 M). Prabu Maharaja Linggabuana inilah yang gugur di Palagan Bubat dalam mempertahankan kehormatannya. Atas insiden yang menghebohkan seluruh Nusantara tersebut, orang-orang memberi julukan atas kegagah-beranian Prabu Maharaja Linggabuana dengan sebutan Prabu Wangi. Dikenal juga sebagai Sang Lumahing Bubat dan dimakamkan di Sanghiyang Linggahiyang (Astana Gede Kawali). Prabu Maharaja Linggabuana dari pernikahannya dengan Dewi Lara Linsing, putri dari Prabu Arya Kulon, memiliki anak di antaranya:
1.     Dyah Pitaloka yang lahir pada tahun 1339 M dan ikut gugur bersama ayahnya di Bubat pada hari Selasa Wage tanggal 4 September 1357 M.
2.      Niskala Wastu Kancana, putra terkecil yang lahir pada tahun 1348 M dan tidak ikut ke Bubat karena saat itu baru berusia 9 tahun sehingga tidak gugur bersama keluarganya yang lain.
C.     Sang Bunisora atau dikenal juga sebagai Mangkubuni Bunisora Suradipati menggantikan kakaknya menjadi raja dengan gelar Prabu Guru Pangadiparamarta Jayadewatabrata. Bunisora dikenal juga sebagai Batara Guru di Jampang. Dari permaisurinya Laksmiwati, memiliki anak:
1.     Giridewata, yang menjadi raja daerah di Cirebon Girang dan dikenal sebagai Ki Gedeng Kasmaya.
2.     Bratalegawa, yang menjadi saudagar kaya raya dengan banyak memiliki perahu dan sering berlayar. Bratalegawa inilah yang pertama kali masuk Islam karena banyak berinteraksi dengan pedagang Muslim bahkan hingga menunaikan ibadah haji dan beristrikan wanita muslimah dari Gujarat. Oleh karena itu Bratalegawa mendapat julukan Haji Purwa Galuh. Cucu Bratalegawa yang bernama Hadijah menikah dengan Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati.
3.     Banawati, yang kelak menjadi ratu di daerah Galuh.
4.     Dewi Mayangsari, yang dikemudian hari dijodohkan dengan Niskala Wastu Kancana (sepupunya).
D.    Niskala Wastu Kancana naik tahta Kerajaan Sunda tahun 1372 M dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana Praburesi Buana Tunggal Dewata menggantikan paman sekaligus mertuanya, Sang Bunisora. Niskala Wastu Kancana inilah yang disebut dalam Prasasti Kawali. Diantara putranya adalah:
a.     Dari istri yang bernama Ratna Sarkati putri Sang Resi Susuk Lampung dari Sumatera, yaitu:
1.     Sang Haliwungan atau biasa juga disebut Sang Susuktunggal yang lahir pada tahun 1369 M dan mendapat gelar Prabu Dewatmaka setelah mewarisi kerajaan Sunda mulai dari sungai Citarum ke sebelah barat.
b.     Dari istri yang bernama Dewi Mayangsari putri Sang Bunisora Suradipati, yaitu:
2.     Sang Ningrat Kancana dengan gelar Prabu Dewa Niskala setelah mewarisi kerajaan Galuh mulai dari sungai Citarum ke sebelah timur sampai sungai Cipamali di Brebes.
3.     Ki Gedeng Sindang yang menjadi raja daerah di Sindangkasih.
4.     Surawijaya Sakti yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Ki Gedeng Singapura, raja daerah di Singapura (Mertasinga, pelabuhan Cirebon).
5.     Ki Gedeng Tapa yang nantinya menjadi Juru Labuan Muara Jati dengan gelar Mangkubumi Jumajan Jati.
E.     Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi raja daerah di Cirebon  Girang memiliki anak di antaranya:
1.     Ki Gedeng Carbon Girang yang putrinya, Nyai Arumsari menjadi istri Ki Danusela (adik Ki Danuwarsih) atau disebut juga Ki Gedeng Alang-alang (Kuwu Cirebon Pesisir I)
2.     Ki Gedeng Sanggarung yang menjadi raja daerah di Losari.
3.     Indang Saketi yang dinikahi oleh sepupunya Surawijaya Sakti atau Ki Gedeng Singapura.
4.     Lara Ruda yang dinikahi oleh Ki Dampu Awang seorang saudagar dari Campa.
5.     Ratna Kranjang yang dinikahi oleh sepupunya Ki Gedeng Tapa yang menjadi Juru Labuan Muara Jati dan selanjutnya merangkap sebagai penguasa  daerah Singapura menggantikan kakaknya Surawijaya Sakti yang tidak memiliki keturunan.
F.     Prabu Dewatmaka atau Sang Susuktunggal atau Sang Haliwungan yang menjadi Raja Sunda memiliki putra-putri dari dua istri.
a.     Dari istri yang bernama Baramuci Larang, putri Prabu Surendrabuanaloka memiliki anak yaitu:
1.     Surabima alias Prabu Amuk Marugul yang menjadi raja daerah di Japura (Cirebon)
2.     Kentring Manik Mayang Sunda yang kelak menjadi istri Sri Baduga Maharaja.
3.     Dipati Kranda yang nantinya menjadi Bupati di Sunda Kalapa (Jakarta).
b.     Dari istri yang kedua memiliki anak yaitu:
4.     Sang Wudubasu yang menjadi raja daerah di Tanjung.
5.     Sang Pulunggana yang menjadi raja daerah di Gunung Batu.
G.    Prabu Dewa Niskala yang menjadi Raja Galuh memiliki anak:
a.     Dari istri yang pertama yaitu:
1.     Sang Pamanahrasa atau Jayadewata.
2.     Sang Ningratwangi.
b.     Dari istri kedua yaitu:
3.     Banyak Catra alias Kamandaka yang menjadi Bupati di Pasir Luhur (Cilacap).
4.     Banyak Ngampar yang menjadi Bupati di Dayeuh Luhur (Cilacap).
5.     Ratna Ayu Kirana.
6.     Kusumalaya alias Ajar Kutamangu yang menjadi raja daerah di Talaga (Majalengka) karena menikah dengan Ratu Simbarkancana putri Prabu Talagamanggung.
H.    Sang Pamanahrasa atau Prabu Jayadewata mempersatukan kembali Galuh dan Pakuan setelah terjadi konflik antara ayahnya Prabu Dewaniskala (Raja Galuh di Kawali) dengan uwaknya Prabu Dewatmaka (Raja Sunda di Pakuan). Ketika dilantik di Kawali mendapat gelar Prabuguru Dewataprana dan setelah diangkat juga sebagai raja sunda mendapat gelar Sri Baduga Maharaja (H)aji di Pakuan Pajajaran. Sri Baduga mendapat sebutan juga Prabu Siliwangi.
a.     Dari istrinya Ambetkasih putri Ki Gedeng Sindangkasih raja wilayah Sindangkasih, Sri Baduga Maharaja tidak memiliki anak.
b.     Dari istrinya Subanglarang putri Ki Gedeng Tapa raja Singapura memiliki anak yaitu:
1.     Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon II yang kelak mendirikan Kerajaan Islam dengan nama Nagara Agung Pakungwati Cirebon di pesisir dengan gelar Sri Mangana.
2.     Larasantang yang menjadi ibunda dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang mewarisi Kerajaan Cirebon dari uwaknya.
3.     Rajasangara
c.      Dari istrinya Kentring Manik Mayang Sunda putri Prabu Dewatmaka memilik anak yaitu:
4.     Sanghiyang Surawisesa yang melanjutkan tahta kerajaan Sunda Pajajaran.
5.     Sang Surasowan yang menjadi Bupati di Banten Pesisir.
d.     Dari istrinya Nyai Ratu Bancana memiliki anak yaitu:
6.     Prabu Sangkan Beunghar.
e.     Dari istrinya Nyai Aciputih putri Dampu Awang dengan Lara Ruda memiliki anak yaitu:
7.     Lara Badaya
I.       Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang pendiri Kraton Pakungwati memiliki anak:
a.     Dari Nyai Indang Geulis putri Ki Danuwarsih anaknya yaitu:
1.     Nyai Mas Pakungwati.
b.     Dari Nyai Ratna Riris atau Nyai Kancana Larang putri Ki Danusela alias Ki Gedeng Alang-alang anaknya yaitu:
2.     Pangeran Carbon.
c.      Dari istrinya yang bernama Nyai Retna Rasajati, putri Maolana Ibrahim Akbar atau Syekh Maulana Jatiswara dari Campa memiliki anak yaitu:
3.     Nyai Laraskonda
4.     Nyai Lara Sajati
5.     Nyai Jatimerta
6.     Nyai Jamaras
7.     Nyai Mertasinga
8.     Nyai Cempa
9.     Nyai Rasamalasih

3 komentar:

  1. coba itu yg nomor H D,...dihapus saja,..itu tdk ada,..makasih

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas kunjungannya kang Jaka Supraba.
    Untuk point yg disebutkan, itu terdapat dalam naskah Sumedang dan naskah Pamarican terkait sejarah kerajaan Galih Pakuan di Limbangan Garut.
    Naskah ini memang 'pebeulit', tp saya bermaksud sengaja menampilkan semua informasi terkait silsilah ini dari berbagai sumber.

    BalasHapus